Beberapa bulan lalu kita semua bertanya-tanya dan berharap sesuatu yang baru akan hadir dalam social media. Bahkan banyak yang memprediksi sesuatu yang baru itu akan mengalahkan apa yang selama ini dibangun oleh Mark Zuckerberg dalam Facebook miliknya.
Yup, yang dimaksud adalah Google+. Bahkan para pengamat hanya menemukan sejumlah kecil bugs dalam versi Google+ beta. Dan itu merupakan awal yang baik bagi Google untuk mulai berkompetisi di dunia social media.
Sebagai catatan, ada 20 juta user mendaftar akun Google+ hanya dalam waktu 3 minggu. Itu pastinya luar biasa jika dibanding Facebook yang membutuhkan waktu 3 tahun 2 bulan untuk meraih jumlah user yang sama. Namun itu adalah masa ‘bulan madu’ bagi Google+ yang telah berakhir. Google+ harus berbenah jika ingin benar-benar bersaing dengan Facebook.
1. Profile(s) not found
Perlu diketahui bahwa pada hari Jumat kemarin (22 Juli) Google melakukan pembersihan secara besar-besaran. Jangan kaget jika tiba-tiba Anda tidak menemukan akun dengan nama A atau B yang sebelumnya ada. Ini terkait dengan kebijakan Google+ yang ‘memaksa’ user untuk menggunakan nama asli.
Screenshot di atas adalah upaya untuk mencari nama Michael Arrington, yang telah memiliki akun Google+. Dia adalah pendiri situs gadget ternama, Techcrunch. Lalu bagaimana Google+ tidak mencantumkan nama itu sebagai Google+ profile? Saat Anda mengetik pada ‘search’ nama Michael Arrington muncul dalam pilihan, namun ketika Anda klik pada nama itu, Google+ menampilkan ‘Profile Not Found’.
Dalam beberapa kasus, seorang user harus membuktikan bahwa apa yang mereka tulis di profile harus benar-benar menjelaskan mereka sebenarnya melalui scan ID foto atau cara lain. Jika apa yang diminta Google+ itu tidak dipenuhi maka Google tidak hanya mematikan akun G+ mereka tapi benar-benar akan dihapus segala sesuatu yang ada dalam akun G+ itu. Anda yang menggunakan ponsel Android untuk Google+, WASPADALAH! Back up semua data Anda di lain tempat, selain Google.
- Apa yang seharusnya dilakukan Google?
Penghapusan akun secara besar-besaran bisa disebut sebagai bencana. Spam protection akan menjadi pilihan wajib, terutama bagi perusahaan seperti Google yang selalu bergantung pada data nyata dari orang-orang yang nyata. Namun menjadi ‘korban’ sebagai pihak yang dicurigai oleh Google dan baru bisa dinyatakan ‘nyata’ oleh Google dalam waktu 4 minggu adalah hal yang konyol dan seharusnya tidak terjadi.
Atau, seharusnya Google menandai saja akun-akun yang dicurigai oleh sistem sebagai profil ‘tidak nyata’. Misalnya, diperingatkan lewat email atau dengan pemberitahuan pada user lain untuk mengkonfirmasi apa yang bersangkutan merupakan profil nyata atau bukan. Setidaknya itu ‘lebih sopan’ daripada langsung menghapus dan menonaktifkan sebuah akun Google+ dan tidak muncul dalam pencarian.
Satu lagi, jika akun G+tidak aktif dalam 30 hari Google juga akan langsung menghapusnya (doh!). Google seharusnya memiliki ‘spambuster’ untuk user yang melaporkan bahwa akun mereka telah terhapus. Dengan begitu seseorang bisa melaporkan apakah sebuah akun adalah spam atau bukan, dan Google bisa memeberikan sebuah badge sebagai tanda terima kasih karena pelaporan itu.
2. Business Page sama sekali belum siap
Google melalui Google+ benar-benar belum siap terjun ke dunia bisnis social media. Sebagai sebuah business page, hal utama yang harus dimiiki adalah ‘persiapan’. Sama seperti banyak akun yang terhapus, business page juga mengalami hal serupa. Dua minggu lalu penghapusan besar-besaran itu terjadi dan menyebabkan sejumlah orang mengurungkan niat untuk membuat business page di Google+ menggunakan nama usaha. Namun kemudian Google approve beberapa pages yang sebelumnya berhasil dibuat di business page versi beta.
Itu adalah bentuk inkonsistensi dari Google+. Sangat merugikan ketika beberapa nama usaha harus dihapus dari Google+ business page sementara yang lain tidak mengalami masalah meskipun bertentangan dengan aturan Google+. Tampaknya Google pilih-pilih dalam approve business page. Sementara perusahaan-perusahaan besar bisa dengan tenang berada di Google+, perusahaan kecil yang sedang memulai promosi produknya harus terhapus dari Google+. Dan sampai hari ini, tidak ada kepastian akan dibawa kemana business page milik Google+ nantinya akan diarahkan.
- Apa yang seharusnya dilakukan Google?
Hal seperti itu seharusnya telah bisa diatasi dengan cepat dan mudah. Yang harus dilakukan adalah dengan membuat sebuah halaman berisi pengumuman di plus.google.com/business. Page itu harus memberitahu secara jelas dan rinci bahwa business page tidak bisa dibuat menggunakan profile, atau akan dihapus. Dengan tambahan seperti ini:’ Namun jika Anda tertarik membuat akun business di Google+, silakan ikuti langkah-langkah ini:
1. Buatlah akun Google+ pribadi dengan nama dan informasi asli.
2. Isilah form ini dengan nama bisnis Anda, alamat, website URL, dan posisi Anda di perusahaan itu saat ini.
3. Jika bisnis Anda telah diverifikasi dalam Google Places, harap sertakan alamat email yang digunakan untuk verifikasi itu. Kami akan mengirimkan email account yang menghubungkan Anda ke Google + profile email.
4. Jika bisnis Anda tidak diverifikasi pada Google Places atau tidak memiliki alamat nyata, silakan mengisi formulir ini [link] dan jelaskan pada kami tentang bisnis Anda. Ada pilihan verifikasi di formulir tersebut.
5. Silakan tunggu dan dan nikmatilah Google+ sebagai seorang user. nanti saat kami rilis Google + for Business, kami akan mengirimkan instruksi lebih lanjut.
3. Google tidak memahami keinginan user
Satu hal yang jelas bisa dilihat adalah Google menyedari mereka memiliki sesuatu yang besar melalui Google+. Mereka hanya tidak menyadari bahwa Google+ adalah sesuatu yang SANGAT besar dan dinanti banyak orang.
Pada peluncuran Google+, mereka mengirim banyak sekali invitasi. Google berpikir bahwa orang-rang yang menerima invitasi itu akan langsung mengaktifkan akun Google+. Padalah, karena alasan ini dan itu banyak yang tidak langsung mengaktifkannya selama beberapa hari. Dan ketika ingin diaktifkan, Google telah menutup link-nya. Dan hilanglah kesempatan untuk membuat akun Google+.
Jelas sudah bahwa Google telah secara dramatis meremehkan persentase aktivasi dan aktivasi itu kini terus turun jumlahnya. Dan yang terjadi selanjutnya adalah sebuah perdebatan internal.
Semua itu menunjukkan bagaimana Google+ dipersiapkan dengan sangat rapuh dan tidak matang.
- Apa yang seharusnya dilakukan Google?
Google seharusnya memiliki persiapan yang sangat matang. Sangat mudah untuk menulis bahwa sekarang Google tidak siap untuk sebuah social media. Padahal Google memiliki pengalaman lebih banyak di media sosial daripada perusahaan lain. Mereka ahli dalam hal itu.
Google seharusnya menunggu beberapa bulan lagi daripada harus meluncurkan produk gagal seperti Google+. Mereka memiliki teknologi yang sangat baik namun solusi untuk non-teknis sangat lemah.
4. Setelah ‘Bulan Madu’
Pada akhirnya Google+ harus berhasil. Persaingan dan masalah yang muncul seharusnya bisa diatasi dengan cepat meski faktanya kini Google+ telah kehilangan sejumlah kecil pengguna.
Namun tetap saja, momentum Google+ sangat kuat selama 3 minggu setelah rilisnya. Sangat memalukan memang jika Google harus kehilangan user pada hari-hari pertama setelah rilis. Sebenarnya, jika Google siap hal seperti itu tidak perlu terjadi. Jika mereka mau, masa ‘bulan madu’ yang indah itu bisa diperpanjang selama satu atau dua bulan mendatang, sampai Google+ siap mendominasi pencarian lokal, mobile maupun social media.
Sekarang mari kita lihat Google+ dengan cara pandang ke depan. Beberapa mendatang kita akan melihat sebuah visualisasi bahwa Google+ bisa mencapai 20 juta pengguna. Kapan mereka akan mendapatkan 20 juta berikutnya? 100 juta? 750 juta? Itu semua tergantung bagaimana Google berbenah selama beberapa minggu ke depan. Jika Google terus memepermasalahkan tentang akun fiktif dan terus menghapus akun banyak orang dengan menghapus kontak, email, dan sejenisnya, maka Google tidak pernah dapat mencapai jumlah user seperti yang telah dicapai Facebook.
Selasa, 26 Juli 2011
Rabu, 13 Juli 2011
All about Google+
Ramai di linimasa tentang Google+, layanan jejaring sosial terbaru dari Google. Awalnya sih cuek, tapi beberapa kali ngetweet banyak yang tanya-tanya, akhirnya bikin deh posting ini. Sedikit tapi semoga menjelaskan.
Persaingan yang semakin ketat dan kecenderungan semakin sosial, bikin Google tak pantang menyerah membangun layanan jejaring sosial. Walau telah beberapa yang gagal, Google tetap meluncurkan ujicoba untuk layanan baru yang diberi nama Google+.
Secara tampilan, Google+ ini sangat Google banget. Putih, bersih dan terkesan lapang. Kalau pertama masuk ke Google+ akan tampak seperti
Seakan bisa langsung masuk melalui tombol Sign in, tapi begitu masukkan email, masih ditolak. Karena Google+ masih tahap ujicoba sehingga membatasi penggunanya. Kalau sudah punya akun, maka tampilan mukanya seperti ini:
Secara umum, fitur yang dimiliki oleh Google+ ini mirip dengan Facebook. Tapi 2 fitur utama yang menjadi pembeda Google+ ini, yaitu Circle (Lingkaran) dan Sparks.
Beda dengan Facebook, kita pertama diminta mengkonfirmasi apakah seseorang itu teman kita dan kemudian memasukkan dalam kategori pertemanan. Google+ meminta kita memasukkan seseorang dalam Circle untuk mengkonfirmasi kita berteman dengan orang itu.
Dengan demikian, sejak awal kita telah mempunyai beberapa circle yang berisi teman-teman dengan kesamaan tertentu. Semisal, teman SMU, teman kerja, teman gila dan lainnya.
Ketika kita berbagi content (status, link, foto dll) kita harus memilih pada circle mana kita akan berbagi. Jadi pesan kita langsung tertuju pada cirlce yang kemungkinan berminat dengan pesan kita tersebut. Gak nyampah istilahnya
Sparks adalah kategori minat. Jadi Google+ meminta kita untuk memilih topik minat kita yang disambungkan dengan content hasil pencarian Google. Ngek banget ya. Topik minat ini akan tampil disebelah kiri, dibawah fitur Circle.
Bila sebuah topik Sparks kita klik, maka akan tampil hasil pencarian Google. Kita bisa klik untuk membacanya atau kita berbagi, sekali lagi dengan Circle yang harus kita pilih. Gak usah nyampah ya. Berbagi hal-hal tertentu (tahu kan maksudku….) ya dengan teman tertentu saja kan. Jangan ketahuan guru, apalagi dosenmu…..hihihihi
Bagaimana ramalanku (jiaaah ramalan…) tentang Google+
1. Potensi Google+ adalah pada dua fungsinya yaitu sebagai jejaring pertemanan (seperti Facebook) dan jejaring informasi (seperti twitter). Cukup 1 media sosial untuk 2 fungsi. Google+ adalah penantang Facebook, juga Twitter
2. Circle pada Google+ mempunyai potensi bisnis (juga keamanan) yang memungkinkan Google melakukan analisis jejaring sosial kita. Paling tidak, Google bisa mengidentifikasi influencer kunci yang berdampak paling luas
3. Dalam tahap ujicoba ini, terkesan Google+ terlalu serius, paling tidak bagi kita-kita yang alay (Kita???). Sebuah kekuatan potensial untuk menyebarluaskan Google+. Bagi yang serius pun tetap perlu bersenang-senang kan?
Memang ada 2 faktor positif, tapi faktor ketiga yang seringkali menjadi daya pikat utama orang untuk menggunakan media sosial. Nah, apakah Google+ akan mengalami nasib seperti layanan jejaring sosial dari Google lainnya?
Semua masih ujicoba, kita perlu melihat perkembangan lebih lanjut untuk melihat prospek Google+. Bagaimanapun Google+ layak untuk dicoba. Berkembang atau tutup, paling tidak sudah tahu rasanya
Persaingan yang semakin ketat dan kecenderungan semakin sosial, bikin Google tak pantang menyerah membangun layanan jejaring sosial. Walau telah beberapa yang gagal, Google tetap meluncurkan ujicoba untuk layanan baru yang diberi nama Google+.
Secara tampilan, Google+ ini sangat Google banget. Putih, bersih dan terkesan lapang. Kalau pertama masuk ke Google+ akan tampak seperti
Seakan bisa langsung masuk melalui tombol Sign in, tapi begitu masukkan email, masih ditolak. Karena Google+ masih tahap ujicoba sehingga membatasi penggunanya. Kalau sudah punya akun, maka tampilan mukanya seperti ini:
Secara umum, fitur yang dimiliki oleh Google+ ini mirip dengan Facebook. Tapi 2 fitur utama yang menjadi pembeda Google+ ini, yaitu Circle (Lingkaran) dan Sparks.
Beda dengan Facebook, kita pertama diminta mengkonfirmasi apakah seseorang itu teman kita dan kemudian memasukkan dalam kategori pertemanan. Google+ meminta kita memasukkan seseorang dalam Circle untuk mengkonfirmasi kita berteman dengan orang itu.
Dengan demikian, sejak awal kita telah mempunyai beberapa circle yang berisi teman-teman dengan kesamaan tertentu. Semisal, teman SMU, teman kerja, teman gila dan lainnya.
Ketika kita berbagi content (status, link, foto dll) kita harus memilih pada circle mana kita akan berbagi. Jadi pesan kita langsung tertuju pada cirlce yang kemungkinan berminat dengan pesan kita tersebut. Gak nyampah istilahnya
Sparks adalah kategori minat. Jadi Google+ meminta kita untuk memilih topik minat kita yang disambungkan dengan content hasil pencarian Google. Ngek banget ya. Topik minat ini akan tampil disebelah kiri, dibawah fitur Circle.
Bila sebuah topik Sparks kita klik, maka akan tampil hasil pencarian Google. Kita bisa klik untuk membacanya atau kita berbagi, sekali lagi dengan Circle yang harus kita pilih. Gak usah nyampah ya. Berbagi hal-hal tertentu (tahu kan maksudku….) ya dengan teman tertentu saja kan. Jangan ketahuan guru, apalagi dosenmu…..hihihihi
Bagaimana ramalanku (jiaaah ramalan…) tentang Google+
1. Potensi Google+ adalah pada dua fungsinya yaitu sebagai jejaring pertemanan (seperti Facebook) dan jejaring informasi (seperti twitter). Cukup 1 media sosial untuk 2 fungsi. Google+ adalah penantang Facebook, juga Twitter
2. Circle pada Google+ mempunyai potensi bisnis (juga keamanan) yang memungkinkan Google melakukan analisis jejaring sosial kita. Paling tidak, Google bisa mengidentifikasi influencer kunci yang berdampak paling luas
3. Dalam tahap ujicoba ini, terkesan Google+ terlalu serius, paling tidak bagi kita-kita yang alay (Kita???). Sebuah kekuatan potensial untuk menyebarluaskan Google+. Bagi yang serius pun tetap perlu bersenang-senang kan?
Memang ada 2 faktor positif, tapi faktor ketiga yang seringkali menjadi daya pikat utama orang untuk menggunakan media sosial. Nah, apakah Google+ akan mengalami nasib seperti layanan jejaring sosial dari Google lainnya?
Semua masih ujicoba, kita perlu melihat perkembangan lebih lanjut untuk melihat prospek Google+. Bagaimanapun Google+ layak untuk dicoba. Berkembang atau tutup, paling tidak sudah tahu rasanya
Google+, mainan baru terobosan si Om Gugel. It's Social Network, but Not Facebook!
Ceritanya, Agus (bukan nama samaran eh sebenarnya) lagi bete sama dosennya. Saking betenya, nulislah dia di FB, “dosen udin resek”. Lupa kalau dia berteman dengan sang dosen. Dan hari senin, Agus mendapat panggilan untuk menghadap sang dosen. (ngek ngok). Pernah mengalami memasang status yang dibaca oleh yang gak berhak seperti yang dialami Agus?
Ada pula cerita Mini, yang saling balas komentar sama seorang cowok. Asyik juga nih. Tapi tetapi ternyata, saling komentar itu bikin cowoknya Mini jadi cemburu. Nah runyam deh…
Ada beberapa cerita lain seperti yang dialami oleh Agus yang pernah kudengar. Karena itu, buat pengguna FB yang masih labil seperti kita (kita?), solusinya adalah tidak berteman dengan orang-orang tertentu seperti dosen/guru dan orang tua. Solusi yang cukup menarik karena bisa membatasi orang-orang tersebut untuk membaca status kita.
Eh ternyata solusi itu senjata makan tuan. Kita bisa milih tidak berteman dengan seseorang, tapi kadang kita juga butuh ngobrol dengan orang tersebut.
Itu persoalan pertama. Lainnya….
Ada notification masuk. Kita di tag di sebuah foto. Dan bertubi-tubi masuk notification karena orang-orang pada berkomentar terhadap foto itu. Padahal foto itu gak penting banget buat kita. Nyebelin kan…..
Nah suara hati kita tentang persoalan-persoalan yang ada di Facebook ini ternyata didengerin mbah Google nih. Makanya, si mbah nyoba-nyoba bikin namanya Google+ alias Google plus (bukan plus plus yang nikmat itu…….)
Apa enaknya Google+ ?
Google+ mengelola teman-teman kita lebih baik. Jadi kalau kita ngobrol itu kan tergantung sikon. Kalau ngobrol sama sohib, kita bisa ngakak, pakai istilah sesuka kita. Kalau ngobrol sama kakak kelas/angkatan, kita kan harus jaim dikit dong. Kalau ngobrol sama dosen/guru, harus sopan lah.
Beda gaya ngobrolnya. Beda juga yang diobrolin. Obrolan seru di kelompok teman, bisa jadi gak nyambung kalau diobrolin sama guru/dosen. Sama-sama teman pun, kalau minatnya beda ya obrolannya beda juga.
Kalau di Google+, kita mau menambahkan seseorang jadi teman, kita diminta untuk memasukan orang itu dalam suatu circle (lingkarang), misal: sahabat, guru, kenalan, pecinta, olah raga dll.
Sekarang kalau kita update status maka akan ditanya status itu akan disharingkan ke circle (lingkaran) apa. Jadi update kita hanya tertuju pada mereka yang berhak mendapatkannya (emang zakat…..). Orang lain di luar suatu circle (lingkaran) tidak bisa membaca status kita itu. Aman kan?
Lebih asyik lagi, kalau kecepatan internet lagi baik hati, kita bisa video chat dengan suatu circle. Bisa ngobrol seru tuh.
Kita juga bisa update informasi seru tentang topik tertentu dan mensharingkannya dengan circle (lingkarang) tertentu. Misal, Justin Bieber. Gimana caranya? Pakai fitur Sparks. Kita tinggal masukkan kata kunci “Justin Bieber”, klik search dan ketemu semua content terkait sang idola itu.
Nah topik itu akan selalu ada di sebelah kiri beranda kita. Kalau mau melihat update terbaru, maka tinggal klik di topik sparks. Tampilan semua content. Tinggal baca dan sharingkan ke suatu circle. Wah gak pernah ketinggalan gosip, bisa jadi yang pertama malahan.
Tampilan beranda Google+
Perhatikan sebelah kiri atas tertulis “Stream”, dibawahnya itu adalah berbagai circle (lingkaran) yang kita buat. Kalau klik di “Stream” maka status dari teman di semua Circle akan tampil. Kalau kita klik salah satu Circle maka hanya status teman pada Circle itu yang akan tampil.
Di bawahnya, ada “Sparks” itu adalah topik-topik minat kita. Kalau di klik di Agnez Monica maka semua content terkait akan muncul, mulai berita sampai video.
Asyiknya lagi, Google+ membolehkan setiap orang men-tag kita di sebuah foto tapi akan ditanyakan pada kita apakah setuju di tag di foto itu. Kalau gak setuju, ya gak jadi di-tag. Sekian….
Gitu dulu deh tentang Google+. Mending sekarang dicoba dulu. Eh masih belum bisa, masih tahap ujicoba dan hanya orang keren yang diperbolehkan nyoba #uhuk. Sabarlah menanti……
Ada pula cerita Mini, yang saling balas komentar sama seorang cowok. Asyik juga nih. Tapi tetapi ternyata, saling komentar itu bikin cowoknya Mini jadi cemburu. Nah runyam deh…
Ada beberapa cerita lain seperti yang dialami oleh Agus yang pernah kudengar. Karena itu, buat pengguna FB yang masih labil seperti kita (kita?), solusinya adalah tidak berteman dengan orang-orang tertentu seperti dosen/guru dan orang tua. Solusi yang cukup menarik karena bisa membatasi orang-orang tersebut untuk membaca status kita.
Eh ternyata solusi itu senjata makan tuan. Kita bisa milih tidak berteman dengan seseorang, tapi kadang kita juga butuh ngobrol dengan orang tersebut.
Itu persoalan pertama. Lainnya….
Ada notification masuk. Kita di tag di sebuah foto. Dan bertubi-tubi masuk notification karena orang-orang pada berkomentar terhadap foto itu. Padahal foto itu gak penting banget buat kita. Nyebelin kan…..
Nah suara hati kita tentang persoalan-persoalan yang ada di Facebook ini ternyata didengerin mbah Google nih. Makanya, si mbah nyoba-nyoba bikin namanya Google+ alias Google plus (bukan plus plus yang nikmat itu…….)
Apa enaknya Google+ ?
Google+ mengelola teman-teman kita lebih baik. Jadi kalau kita ngobrol itu kan tergantung sikon. Kalau ngobrol sama sohib, kita bisa ngakak, pakai istilah sesuka kita. Kalau ngobrol sama kakak kelas/angkatan, kita kan harus jaim dikit dong. Kalau ngobrol sama dosen/guru, harus sopan lah.
Beda gaya ngobrolnya. Beda juga yang diobrolin. Obrolan seru di kelompok teman, bisa jadi gak nyambung kalau diobrolin sama guru/dosen. Sama-sama teman pun, kalau minatnya beda ya obrolannya beda juga.
Kalau di Google+, kita mau menambahkan seseorang jadi teman, kita diminta untuk memasukan orang itu dalam suatu circle (lingkarang), misal: sahabat, guru, kenalan, pecinta, olah raga dll.
Sekarang kalau kita update status maka akan ditanya status itu akan disharingkan ke circle (lingkaran) apa. Jadi update kita hanya tertuju pada mereka yang berhak mendapatkannya (emang zakat…..). Orang lain di luar suatu circle (lingkaran) tidak bisa membaca status kita itu. Aman kan?
Lebih asyik lagi, kalau kecepatan internet lagi baik hati, kita bisa video chat dengan suatu circle. Bisa ngobrol seru tuh.
Kita juga bisa update informasi seru tentang topik tertentu dan mensharingkannya dengan circle (lingkarang) tertentu. Misal, Justin Bieber. Gimana caranya? Pakai fitur Sparks. Kita tinggal masukkan kata kunci “Justin Bieber”, klik search dan ketemu semua content terkait sang idola itu.
Nah topik itu akan selalu ada di sebelah kiri beranda kita. Kalau mau melihat update terbaru, maka tinggal klik di topik sparks. Tampilan semua content. Tinggal baca dan sharingkan ke suatu circle. Wah gak pernah ketinggalan gosip, bisa jadi yang pertama malahan.
Tampilan beranda Google+
Perhatikan sebelah kiri atas tertulis “Stream”, dibawahnya itu adalah berbagai circle (lingkaran) yang kita buat. Kalau klik di “Stream” maka status dari teman di semua Circle akan tampil. Kalau kita klik salah satu Circle maka hanya status teman pada Circle itu yang akan tampil.
Di bawahnya, ada “Sparks” itu adalah topik-topik minat kita. Kalau di klik di Agnez Monica maka semua content terkait akan muncul, mulai berita sampai video.
Asyiknya lagi, Google+ membolehkan setiap orang men-tag kita di sebuah foto tapi akan ditanyakan pada kita apakah setuju di tag di foto itu. Kalau gak setuju, ya gak jadi di-tag. Sekian….
Gitu dulu deh tentang Google+. Mending sekarang dicoba dulu. Eh masih belum bisa, masih tahap ujicoba dan hanya orang keren yang diperbolehkan nyoba #uhuk. Sabarlah menanti……
Langganan:
Postingan (Atom)


